Kisah Ojek Wanita Pertama: dari Merintis hingga Buka Donasi

Kisah Ojek Wanita Pertama: dari Merintis hingga Buka Donasi

Namanya Lutfy Azizah, usianya masih 29 tahun, tinggal di kota kecil Tulungagung, Jawa Timur. Semangat kerjanya tak pernah lelah meski dari pagi hari hingga menjelang tengah malam harus bekerja. Statusnya sebagai single parent menjadi hal berat bagi Lutfy. Ia harus menghidupi ibu dan seorang putra kandungnya sendiri. Tak pernah malu ataupun takut, ia akhirnya memilih menjadi sopir ojek sebagai sumber penghasilannya.

Menjadi ojek wanita pertama dan memulai usahanya dari nol.

1-28a5380dded82e66caeed397e1f430a7.jpgDok. pribadi
Lutfy mengawali usaha ojeknya sejak tahun 2015 dengan nama Zendo. Kala itu dirinya bekerja sebagai pegawai Tata Usaha (TU) di salah satu sekolah swasta. Pekerjaannya sebagai TU hanya dikerjakan saat sore hari. Sementara, pagi harinya dia tidak ada kegiatan sama sekali. Oleh karena itu untuk mengisi waktu, Lutfy pun membuka usaha ojek. Semua dikerjakan dari nol dari mulut ke mulut.
"Pelanggan pertama itu temen saya sendiri, tarifnya cuma Rp 3.000 saja untuk wilayah kota," kata dia. Pelayanannya yang bagus menyebar dari mulut ke mulut. Lambat laun, banyak orang yang ingin merasakan pelayanannya. Setelah diantar ojek Lutfy, mereka merasa aman dan puas. Banyak orang yang mempercayakan perjalanan kepadanya. "Sekarang sudah penuh dari pagi sampai malam dan saya punya empat driver," ujar Lutfy.
Dia menjelaskan usahanya itu tak menggunakan aplikasi seperti ojek online kebanyakan. Hanya bermodalkan aplikasi chat dan dari mulut ke mulut. Selain itu, Lutfi juga gencar mempromosikan usaha ojeknya di media sosial seperti Facebook. 

Sering kena tipu hingga pelecehan pada tahun pertama.

2-4442a3093335ebf1ae5a68432ee54d8e.jpgDok. pribadi
Dengan tarif Rp 3.000 - Rp 5.000, tentu tak sebanding dengan modal dan tenaga yang dikeluarkan Lutfy. Terutama pada tahun pertama, ia mengalami banyak tantangan. Dari tak memiliki keuntungan, sering tertipu ratusan ribu rupiah, hingga mengalami pelecehan. Namun, ia tetap kukuh menjalankan bisnis yang baru dirintisnya. "Keuntungan itu nomor sekian, yang mau saya tanamkan itu sebenarnya konsistensi dan kepercayaan  masyarakat. Kalau mereka sudah percaya maka secara tidak langsung akan kembali untuk order," ujarnya.
Tak hanya ojek, Lutfy juga memiliki beberapa usaha sampingan. Misalnya seperti menjual apa saja yang dapat menghasilkan keuntungan dan menambah penghasilannya. "Yang penting halal."

Lutfy membuka lapangan bagi anak-anak muda yang membutuhkan.

18645119-1547571115267026-6149309225500672000-n-93c8a8492bd00900a31c4dc2b37fa4be.jpgDok. pribadi
Awalnya, ia membuka usaha ojek untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Lambat laun, banyak anak-anak muda, termasuk mahasiswa, yang meminta menjadi driver  ojek Lutfy. Alhasil, ia memberikan modal awal kepada para driver barunya berupa bensin dan kebutuhan mengemudi lainnya. Berkat usaha ojeknya, Lutfy berhasil membantu mempromosikan usaha kuliner para tetangga dan pelanggannya. Saat ini, sudah ada 30 pengusaha makanan yang mempercayakan usahanya kepada Lutfy. 

6-32a97e0e62d334bbccc316afd51b204d.jpg
Dok. pribadi
Suatu hari Lutfy bertemu dengan kakek penjual buah yang terlihat kepayahan menjual dagangannya. Dalam hatinya dia ingin sekali membantu, tetapi ia tak punya cukup dana untuk meringankan beban sang kakek.
"Saya itu terenyuh lihatnya, gak ada yang beli. Akhirnya saya foto si kakek, saya sebar di media sosial dan pelanggan," katanya. Lutfy menawarkan ongkos kirim gratis bagi siapa saja yang mau membeli dagangan si kakek. Alhasil, dagangan si kakek langsung habis. Ia pun menerapkan hal serupa ketika menemui pelanggan yang belum beruntung. Tak puas sampai di situ, Lutfy bekerja sama dengan komunitas penggalangan dana untuk membuka donasi bagi kakek nenek yang tak memiliki tempat tinggal.

Adanya kasus penyelewangan dana amal yang marak di media sosial, bagaimana cara Lutfy mengatasinya?

3-f5a3b68dd651f15985cd1286b5a34da5.jpgDok. pribadi
Beberapa waktu belakangan santer kasus penyelewangan dana amal. Lutfy pun sempat mendapat pertanyaan bagaimana cara dia mengelola donasi yang selama ini dipercayakan kepadanya. Setiap bukti transfer, nota-nota pembelian dan dana yang disalurkan selalu dikirim kepada para donatur secara berkala sebagai bentuk transparansinya.
"Pada dasarnya yang donasi ke saya itu ya orang-orang yang sudah kenal dengan saya, yang sering order ojek saya juga. Jadi mereka sudah percaya dengan saya. Alhamdulillah selama ini berjalan lancar dan dana bisa sampai di tangan orang yang benar-benar membutuhkan."
5-2853d9fceb690988f0755ab2d94f53b2.jpgDok. pribadi
Lutfy mengajarkan bahwa setiap pekerjaan bisa dilakukan tanpa harus gengsi yang penting adalah halal dan tidak merugikan orang lain. Jatuh bangun dalam usaha merupakan hal wajar. Hal terpenting adalah konsistensi, kepercayaan, dan mau menjemput pekerjaan tersebut. Jangan lupa, saat usaha sudah membuahkan hasil sisihkan beberapa untuk membantu orang-orang yang lebih membutuhkan. "Tak perlu memikirkan untung dan rugi karena Tuhan nanti yang akan membalasnya," tutur Lutfy.

Sumber: https://life.idntimes.com

Baca Juga : Subscribe to receive free email updates:

loading...

0 Response to " Kisah Ojek Wanita Pertama: dari Merintis hingga Buka Donasi "

Post a Comment